Selasa, 04 Mei 2010

Mencontek Itu Dosa? Benarkah?......................

Sungguh saya tidak tahu harus menuliskannya bagaimana, Ujian Nasional , mungkinkah dalam pelaksanaannya terdapat dosa sebesar “dzarah”,yang tanpa kita sadari kita telah melakukannya? Dosa seperti apa? Jika saya bertanya dosakah jika kita Mencontek?.
Sebagian besar dari setiap peserta didik tidak terlepas dari ikatan yang bernama mencontek ini, tidak hanya dalam ujian nasional, ujian harian, ujian akhir, PR, bahkan untuk sebuah tes masuk perguruan tinggi. Dalam pelaksanaan ujian nasional banyak kejadian yang menjadi tabungan dosa bagi para pelaku pendidikan, bagaimana tidak? Dari mulai lemahnya mental para pelaku pendidikan, karena takut siswanya tidak lulus, maka berusaha mencari jawaban dari soal ujian tersebut, untuk memperoleh jawaban harus tahu soal, berhubung soal dijaga, maka para pelaku pendidikan mulai mencuri soal, kemudian mengerjakan soal untuk disebarkan jawabannya lewat media komunikasi yaitu HP, bahkan ada yang menjual soal kepada siswanya.
Dari cerita diatas, salahkah saya jika mengatakan bahwa kita telah menambah tabungan dosa kita. Kita yang mengetahui tidak berusaha mencegahnya, habis mau gimana lagi….
Aku jadi teringat sebuah slogan yang terpasang di salah satu dinding kampusku tercinta, slogan tersebut ditempel pada dinding dan selalu dapat dibaca dengan jelas jika kita melewati tangga, kira-kira inilah bunyi slogan terssebut:
“ Jagalah Perkataanmu Karena Akan Mempengaruhi Sikapmu, Jagalah Sikapmu Karena Akan Mempengaruhi Kebiasaanmu Dan Jagalah Kebiasaanmu Karena Akan Menjadi Karaktermu”
Slogan ini menggambarkan fenomena mencontek pada peserta didik. Saya akan mengilustrasikannya agar lebih jelas lagi. Ilustrasi ini murni buatan saya, berawal dari perkataan “aku takut nggak lulus nih atau aku takut nggak naek kelas neh dan sebagainya..mengakibatkan para peserta didik membuat suatu tindakan yaitu membuat contekan sehingga contekan itu sudah menjadi rutinitas ujian, karena kebiasaan yang selalu dilakukan itu maka terbentuklah karakter yang sangat tidak kita inginkan, karakter mencontek, menjiplak, memalsukan, meniru dan sebagainya,….
Jadi, mari kita renungkan slogan diatas dan mulailah kita mengurangi tabungan dosa kita? Mungkin bisa kita memulainya dengan mengatakan …AKU BISA
tulisan ini penah diupload dikompasiana

Jumat, 30 April 2010

kewajiban memakai jilbab dan dalilnya

Ketika ada sebuah pertanyaan, jika orang kafir memasuki daerah muslim, ada anjuran untuk memakai jilbab, bagaimana tanggapan mereka(kafir), dan jika seorang mukminat ketika memasuki daerah non muslim harus melepaskan jilbab mereka, bagaimana tanggapan kita?

Pertanyaan diatas hanya sebuah prolog saja. Dalam beberapa baris berikutnya kita akan membahas seputar jilbab.

Apakah jilbab itu wajib? Jawabannya adalah ya, mengapa?

Dalam hal kewajiban memakai jilbab ini masih terdapat perpedaan pendapat, ada yang mengatakan tidak dan ada pula yang mewajibkannya. Perbedaan tersebut tetap harus dihargai, tapi bukan berarti tidak berprinsip.

Dalam sebuah kajian yang penulis ikuti seluruh anggota kajian sepakat untuk mengatakan bahwa memakai jilbab itu Wajib. Berjilbab bukanlah sebuah tradisi Arab, bukan pla semata-mata pakaian bangsa Arab yang hidup dipadang pasir sehingga harus menutupi seluruh tubuh mereka, bahkan menurut nara sumbernya, sebelum nabi Muhammad lahir kedunia, bangsa arab itu sudah berjilbab, namun belum menutup aurat. dan jilbab pada masa itu adalah sebuah symbol yang membedakan antara orang baik dan orang yang kurang baik. Dan pada saat itu pula jilbab belum diwajibkan. Namun ketika nabi dilahirkan dan menjadi seorang rasul, mulailah jilbab itu diwajibkan.

Setiap penetapan hukum ada prosesnya begitu pula dalam menetapkan hukum mewajibkan berjilbab, ada tiga proses/tahapan sehingga jilbab resmi diwajibkan, yaitu:

1. Perintah kepada istri-istri nabi untuk membedakan dirinya dengan perempuan-perempuan yang lain baik dalam berhias ataupun berperilaku(lihat Q.S. Al-ahzab 32-33)

2. Perintah untuk membuat hijab/ pembatas (lihat Q.S al-ahzab 53)

3. Dan akhirnya kewajiban untuk seluruh kaum mukminat(lihat Q.S al-ahzab 59)

4. Perintah untuk menutup aurat, dan peraturan yang boleh melihat auratnya(lihat lihat Q.S an-nur 31)

Dalam alquran jika ada sesuatu yang diperintahkan berarti itu merupakan suatu kewajiban dan biasanya jika diikuti dengan kalimat bertaubatlah kamu , maka itu juga hal yang wajib, karena taubat adalah cara minta ampun untuk menghapus dosa besar. dan dalam Q.S an-nur 31 terdapat kalimat bertaubatlah kamu.

Dari dua surat diatas sudah cukup bagi kita untuk memahami apakah jilbab/menutup aurat itu wajib atau tidak. Secara mutlak jilbab itu wajib. Baik itu jilbab hati ataupun secara fisik. Jilbab secara fisik ada dalilnya dan jilbab hati pun ada dalilnya juga. Jilbab secara fisik adalah cara kita berpakaian sedangkan jilbab hati adalah cara kita berperilaku. Dan ayat atau dalil mengenai kewajiban menjilbabi hatinya adalah ayat-ayat yang mewajibkan sholat. Mengapa sholat? Karena manfaat dari sholat adalah mencegah hal-hal yang buruk dalam sikap kita. Bukankah itu yang dimaksud dari menjilbabi hati?

Selasa, 27 April 2010

Orang Tua dan Pendidikan


Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap individu yang terlahir kedunia. Dengan pendidikan manusia dapat menjadi apa yang diinginkan. Pendidikan secara formal dapat kita lihat disekolah. Proses pembelajaran disetiap sekolah hampir sama yang membedakan adalah bagaimana individu memproses ilmu yang telah diperolehnya tersebut. Setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda hal itulah yang menyebabkan setiap individu berbeda cara menerimanya bahkan mengolahnya. Karena untuk mengolah informasi tersebut dia akan menggunakan cara dan pengetahuan yang telah diperolehnya.

Mengingat adanya multi kecerdasan dalam individu dan jika hal ini hanya dibebankan kepada guru maka kecil kemungkinan anak anda berkembang sesuai dengan harapan anda atau bahkan anak tersebut tidak tahu akan menjadi apa, disebabkan karena ketidak tahuan akan kecerdasan yang dimilikinya. Untuk itu himbauan untuk para orang tua kita harus lebih memperhatikan dan membantu anak menemukan kecerdasan yang dimilikinya.

Banyak orang tua yang tidak mau dibebankan masalah hal ini, karena merasa kewajibannya telah dilaksanakannya dengan memasukkan anaknya kesekolah. Namun berdasarkan pengamatan penulis dilapangan, banyak sekali ditemukan ketidak pedulian orang tua terhadap anaknya, bukan berarti penulis menyalahkan orang tua tersebut, penulis sadar sikap ketidak pedulian orang tua pada anaknya bukan berarti mutlak tidak peduli namun karena lebih kepada ketidak tahuan para orang tua. Dan juga bukan berarti ketidaktahuan itu dibiarkan saja. Penulis yakin para orang tua memiliki banyak waktu untuk sekedar membaca atau setidaknya melihat gelagat anak sebelum anaknya menjadi anak yang tidak diharapkan. Karena orang tua yang berperilaku seperti itu tidak hanya orang tua yang berpendidikan rendah tidak sedikit pula orang tua yang berpendidikan tinggi yang secara tidak sadar telah menjadi orang tua yang kurang peduli terhadap proses perkembangan anaknya, mereka menyerahkan anaknya pada pembantu, pada guru les dan lain-lain.

Mengapa penulis katakan bahwa banyak orang tua memiliki sikap kurang peduli,? Karena banyak orang tua yang tidak mengetahui apakah anaknya mengerjakan Tugas sekolah dengan baik atau tidak, apakah anaknya mengalami kendala dalam belajarnya, apakah anak mengalami dilemma dalam menentukan pilihan hidupnya, bagaimana tingkah laku anak disekolah, bahkan beberapa orang tua tidak mengetahui anaknya sudah duduk dikelas berapa padahal anaknya sudah hendak menamatkan sekolahnya? Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang terlupakan oleh orang tua. Padahal sebagai mana kita tahu bahwa pendidikan pertama adalah dirumah. Jika dilihat dari kenyataan diatas maka pendidikan dirumahnya patut dipertanyakan.

Meskipun begitu tidak pantas rasanya menyalahkan orang tua kita atas apa yang telah terjadi, namun alangkah baiknya untuk para calon orang tua untuk tidak mengikuti kesalahan yang telah orang tua kita lakukan. Banyak buku beredar ditoko-toko buku mengenai bagaimana melejitkan potensi anak, buku-buku yang dapat membantu para orang tua mengetahui kecerdasan anak.

Mari kita sama-sama mendidik anak kita dari mereka dapat mendengar apa yang kita ucapkan. Dengan selalu menanamkan kata-kata yang baik, perilaku yang baik dan meskipun kita telah memasukkan anak kesekolah kita tetap harus memantaunya dirumah. Dampingi anak dalam mengerjakan tugas sekolahnya, bantu anak menyelesaikan masalah dan perhatikan perkembangan psikologi anak, karena saat diluar rumah kita tidak tahu apa yang dilakukan bersama temannya.

Demikian sedikit buah pikiran saya semoga menjadi bahan renungan, dan mohon bimbingannya